Cerpen
November 27, 2008
Reuni
Cerpen: Syarief HD
Tempat parkir di pelataran kampus penuh oleh mobil. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Artinya aku terlambat satu jam sepuluh menit dari waktu yang dijadwalkan. Hari Minggu itu aku akan menghadiri reuni di almamater tempat ku pernah menimba ilmu selama hampir 5 tahun. Aku sengaja datang terlambat. Biasa, acara suka ngaret. Fisik kampus tampak tak banyak berubah walau sudah kutinggalkan hampir 15 tahun. Tadinya aku sempat berpikir kalau reuni kali ini tidak akan banyak yang datang. Tapi aku salah. Setidaknya berdasarkan banyaknya mobil di tempat parkir.
“Di sebelah Pak,” seorang satpam berteriak melihat keraguanku memasuki halaman kampus. Ia lalu berlari sambil melambaikan tangan minta diikuti. Kuarahkan mobil mengikutinya. Setibanya di gedung sebuah perkantoran ia memberikan aba-aba parkir.
“Pak Syukur?” Satpam itu menyapaku dengan sedikit nada tanya. Mungkin ia agak pangling dengan penampilanku.
“Eh Pak Arif, damang?” Tadi tak begitu kuperhatikan kalau ia adalah satpam semasa aku kuliah.
“Sae. Meni awet muda Pak Syukur mah.”
Agak geli juga mendengar aku disapa dengan pak. Waktu kuliah ia memanggilku langsung nama tanpa diembeli apa-apa. Dikiranya aku sudah jadi orang sekarang. Waktu kuliah aku ini bukan orang atau paling tidak setengah orang. Yang setengah lagi entah apa. Mungkin binatang atau setan. Mungkin juga orang-orangan yang berpikiran idealis. Setelah punya jabatan di pemerintahan bukan mengabdi pada masyarakat malah memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Atau mungkin mahasiswa tak lebih dari sekedar sumber mendapatkan uang bagi pengelola yayasan. Soal pelayanan pada mahasiswa dan mutu lulusan, itu nomer sekian. Makanya tak heran banyak perguruan tinggi swasta yang berguguran.
“Ah, bisa aja Pak Arif. Sudah banyak yang datang?”
“Sudah Pak. Pak Giri, Pak Eman dan Bu Ani juga sudah,” jawab Pak Arif menyebut beberapa teman seangkatan. Sambil berjalan memasuki kampus kukeluarkan sebungkus rokok dari saku baju. Kuambil sebatang, lalu kusulut. Rokok kemudian aku tawarkan kepadanya. Ketika ia mengembalikannya kepadaku, kukatakan padanya rokok itu untuknya. Aku memang sedang berusaha mengurangi merokok. Kalau nanti ingin merokok gampang saja, tinggal minta pada teman. Dari sekian teman yang datang masa tidak ada satu pun yang merokok.
“Nuhun pak.” Sahut pak Arif sambil berlari menuju posnya. Aku lalu mencari yang orang yang kukenal. Ada beberapa orang di dekat pintu masuk tapi bukan muka yang kukenal. Mereka adik angkatan setelahku yang cukup jauh. Sebagai aktifis kampus aku kenal sampai beberapa angkatan sesudahku.
“Syukur” sebuah seruan cukup keras mengagetkanku. Aku menoleh mencari sumber suara. Tampak olehku di dekat tempat parkir motor seorang lelaki bertopi dengan tulisan “New York” dan mengenakan rompi rajut seperti yang biasa dikenakan Rhenald Kasali. Melihat rompinya aku yakin ia Juned, teman seangkatan. Hanya ia yang berlagak seperti itu. Sejak kuliah ia sudah terobsesi menjadi seorang eksekutif perusahaan. Sehari-hari ia berpenampilan rapi dengan rompi kesayangannya. Sedangkan mahasiswa lain cukup memakai celana jins dan kaos oblong. Kalau musim ujian tiba dialah mahasiswa yang paling merasa senang. Waktu itu kalau ujian harus mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitam. Bagi Juned itu tidak cukup. Ia tetap merasa harus memakai rompi dan menambahkan dasi kupu-kupu pada kemejanya. Seandainya ia memiliki muka yang ganteng tentu orang akan menyukai penampilannya. Tapi dengan rambut klimis dan kacamata tebal, ia malah kelihatan “oon”. Tapi, walaupun begitu, ia teman yang baik dan menyenangkan.
“Hey Juned,” aku berteriak tak kalah keras. Kami lalu berjabatan tangan dengan erat dan terlibat percakapan seru seperti layaknya bertemu dengan teman lama. Percakapan baru terpotong oleh kedatangan seorang lelaki yang memakai batik. Dari tanda pengenal yang ia kenakan, ia salah seorang panitia reuni. Ia meminta kami segera masuk ke ruangan. “Biar tidak saling tunggu,” ujarnya.
Setelah mengisi daftar hadir aku dan Juned melangkah ke ruang aula yang dipakai untuk reuni yang berada di lantai atas. Banyak juga yang bersamaan memasuki aula. Sambil menaiki tangga kami bersalaman. Walaupun tidak saling kenal, kami merasa satu almamater. Barulah ketika memasuki ruangan terlihat olehku teman-teman seangkatan di jajaran kursi belakang. Mereka menoleh ke arah pintu masuk mendengar ada yang datang. Begitu mengenaliku mereka melambaikan tangan. Di situ kulihat Wawan, Giri, Ani, Eman, Aming, Ruhyat, Frida, Yudi, Pram, Ani juga Dadan. Kuhampiri mereka lalu kusalami mereka satu persatu. Lalu aku duduk di sebuah kursi dekat mereka.
Acara baru saja dimulai. Aku dan teman-teman terlibat pembicaraan seru. Maklum, lama tak bertemu.
“Itu dia di sana,” teriak Juned memecah obrolan.
“Siapa?” kataku.
“Alah, jangan pura-pura. Dari tadi celingak-celinguk nyari Puji kan?” Ujar Juned sambil menyebut pacarku waktu kuliah. Aku memang berharap bertemu dengannya di acara ini. Rupanya kegelisahanku terbaca oleh Juned. Sementara yang lain tertawa mendengar omongan Juned.
“Itu di sana,” Juned mengulang sambil tangannya menunjuk perempuan berjilbab putih. Bersamaan dengan itu sosok yang ditunjuk menengok ke arah kami. Ia melempar senyum. Sesaat aku terkesima. Aku mengenali senyum itu. Senyum yang sempat membuat jantungku berdebar tak karuan.
Puji kelihatan tak berubah. Hanya saja ia mengenakan jilbab sekarang. Mukanya tetap putih bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Dengan berjilbab, Puji justru kelihatan tambah cantik.
Aku lalu mulai berhitung. Puji dua angkatan di bawahku. Jadi, usianya sekarang 35. Nama kami unik. Puji dan Syukur. Dua kata ini sering diucapkan orang ketika pidato atau pembacaan doa. Saking uniknya ketika ada yang mengucapkan “.. puji dan syukur kita panjatkan..”, sebelum orang itu menyelesaikan kalimatnya, teman-temanku berseru “hadir…”. Itu tidak hanya di acara kemahasiswaan yang sifatnya nonformal. Di acara formal seperti wisuda atau seminar, mereka tetap melakukannya. Pernah ada dosen yang menegur kelakuan teman-teman. Menurut dosen itu bisa kualat karena mempermainkan ungkapan kepada Tuhan. Tapi dasar mahasiswa, jika ada yang mengucapkan kalimat seperti itu, mereka tetap saja berteriak, “hadir..”. Aku tidak tahu persis, apakah di antara teman-teman ada yang benar-benar kualat akibat kelakuan semasa kuliah itu.
“Udah sana!” Kata beberapa teman membuyarkan lamunanku. Mereka lalu menarikku dari tempat duduk. Aku menurut saja. Kalau aku menolak mereka pasti akan membuat keributan. Lalu aku berjalan mendekati kursi di mana Puji duduk. Kebetulan kursi di sebelahnya kosong.
“Assalamu ‘alaikum,” kuucapkan salam padanya.
“Wa ‘alaikum salam,” jawabnya sambil tertawa. Ia tahu aku mengucapkan salam dengan maksud menggodanya. Ia menyadari kalau aku baru tahu perubahan penampilannya. Teman-teman mulai usil.
“Ada yang bikin reuni di acara reuni,” ucapan itu cukup jelas terdengar walaupun tidak terlalu keras. Ada perasaan jengah mendengarnya. Padahal masa-masa itu telah lewat dalam hitungan tahun. Bahkan lebih dari sepuluh tahun. Dan itu membuatku tertunduk, malu.
Ketika kuangkat kepala, Puji tengah menatapku. Kami bertatapan mata. Aku serasa memasuki dimensi alam lain. Tepuk tangan peserta reuni ketika ketua alumni selesai sambutannya, seolah angin lalu.
“Shit,” kataku dalam hati. Aku mengutuk diriku sendiri karena masih saja mengagumi kelembutan wajahnya. MC memanggil beberapa nama agar ke depan untuk memberikan paparan. Aku mengenali dua nama yang disebut. Sekarang, masuk acara reuni yang sesungguhnya.
“Berapa hasil produksi?” tanya Puji sambil menepuk pundakku.
Aku tertawa. Aku tahu maksudnya anak.
“Dua. Sejodoh,” jawabku sambil tetap tertawa. “Yang gede perempuan adiknya laki. Kamu?”
“Hahaha,” ia mulai jawabannya dengan tertawa. “Kamu kalah. Aku tiga. Dua laki satu perempuan.” Puji memang mahasiswi yang cerdas. Ia juga berani mempertahankan pendapat yang dianggapnya benar. Tapi, ia memiliki kelembutan seorang ibu. Waktu itu kami sering dianggap sebagai pasangan serasi. Apalagi mukaku juga tidak jelek-jelek amat. Namun, hubungan kami tidak sampai pada jenjang pernikahan. Setelah lulus aku bekerja di sebuah perusahaan asing di Papua. Sedangkan Puji setelah lulus pindah ke semarang ikut dengan orangtuanya dan bekerja di sana. Hubungan yang jauh ini membuat kami renggang. Sampai kudengar kabar Puji menikah dengan orang lain.
“Aku gak bisa lama. Aku harus balik ke undangan saudara. Nanti sore harus ke Semarang lagi,” kata Puji.
“Putri!” Kataku memanggilnya. Dulu aku suka memangilnya dengan sebutan itu. Panggilan sayang, ceileh… “Kita ngobrol dulu sebentar yuk?”
Sesaat Puji terperangah. Ada sedikit rona merah di wajahnya. Ia tidak menyangka aku masih ingat dengan sebutan itu. “Tapi….”
“Ayolah. Sebentar saja. Kapan lagi kita bisa ketemu,” kataku tak mau kehilangan kesempatan.
“Aku ditunggu keluarga.”
“Sebentar saja Put!” Kataku sedikit memaksa.
“Okelah,” katanya sambil menghembuskan napas. “Sebentar saja ya.”
Aku mengangguk. Lalu kusebut nama sebuah cafe.
HPku berdering ketika Aku dan Puji tengah memilih sebuah meja di pojok cafe dekat jendela. Dari Pram.
“Kamana Maneh?” Tanyanya tanpa basa-basi.
“Ada perlu sebentar,” jawabku berbohong. Aku senyum sendiri. Aku ingat masa kuliah. Jika ada acara kampus yang bentrok dengan kencan, aku biasa berbohong seperti itu.
“Cepat ke sini. Kampus mau dijadiin mall,” ujar Pram tegas.
Aku tertawa mendengarnya, “Bagus. Nanti tambah banyak yang pintar. Pintar belanja.”
“Ini serius. Yayasan bangkrut, ‘gak baca di materi yang dibagiin.”
Aku teringat saat mengisi daftar hadir. Petugas memang membagikan semacam makalah. Aku saja yang tak sempat membacanya.
“Udah cepat ke sini. Ditunggu,” lanjut Pram dan tut, telepon pun ditutup.
Kaget juga aku. Sempat juga kudengar isu kesalahan pengelolaan kampus. Tapi kupikir itu cuma isu. Kampusku memang dikelola oleh orang-orang yang masih punya hubungan keluarga. Isunya, dana pendidikan dipakai untuk kepentingan pribadi. Yang paling parah, ada yang menggelapkan dana pendidikan hanya untuk kawin lagi. Karena masih keluarga, penyelewengan-penyelewengan ini dianggap sah-sah saja. Justru karena yang satu nyeleweng yang lain malah ikut-ikutan.
Darah aktifis mahasiswaku mulai mendidih. Aku tidak terima kampus dijadikan mall. Bagaimana bisa? Sebagai alumni jelas aku kecewa. Bagaimana jika nanti ada yang menanyakan almamaterku? Apa orang akan percaya jika dikatakan dahulunya mall ini adalah kampus yang pernah melahirkan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia?
Sebelum darah aktifisku mencapai titik didihnya, aku teringat perempuan yang sedang duduk di depanku. Ah…haruskah aku kehilangan kesempatan berduaan dengan orang yang pernah kucintai?
Entry Filed under: Artikel. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Rina (Gojlag) | November 27, 2008 at 8:15 am
mengarang itu gampangs kt arswendo, iya gak seeh..?
2.
andi sunendi | Juli 13, 2009 at 9:58 am
Kapan neh mau temu alumni lagi…??