Forum Lintas Angkatan Tridharma (FLAT)
Salah satu hasil reuni tgl. 12 Oktober 2008 adalah dibentuknya FORUM LINTAS ANGKATAN TRIDHARMA (FLAT). FLAT berfungsi mewakili, menyampaikan aspirasi, melakukan sosialisasi & mobilisasi di angkatannya. Disamping itu FLAT akan membahas lebih lanjut atas pemaparan Tim Khusus Dewan Pengurus IKAT dalam rangka menyikapi perkembangan mutkahir Almamater. Adapun perwakilan tiap angkatan itu sebagai berikut :
|
Angkatan |
Nama Alumni |
|
1974 |
Asep, BA |
|
1976 |
Halyudin, BA |
|
1982 |
Hendra, SE., Ak. |
|
1983 |
Ita, SE |
|
1984 |
Dedi, SE |
|
1985 |
Dr. H. Memed Sueb, SE.,M.Si.,Ak. |
|
1986 |
Uche Rochyawan, SE. Asep Karpudin,SE |
|
1987 |
Ading, SE |
|
1988 |
Tonton Riyanton, SE.Ak., Bambang Eko,SE. |
|
1989 |
Slamet TU, SE; Pramudiyo Priyambodo,SE., Syarif Hidayat,SE |
|
1990 |
Purba Imam Purnama, SE. Dasep Heriansyah,SE.,M.Si.,Ak. |
|
1991 |
Permohonan Siregar, SE. Syafrizal Ikram,SE.,M.Si.,Ak., Ali Muktiyato A,SE.,M.Si. |
|
1992 |
Hasan Mustafa, SE; Yoga Asmara, SE |
|
1995 |
Aep Hardianto, SE.,Ak |
|
1999 |
Agus, SE |
|
2001 |
Wuri, SE |
Untuk angkatan yang belum ada perwakilannya diharap segera mengirimkan wakilnya melalui email: ikat3dharma@yahoo.com. Pertemuan berikutnya akan diinformasikan kepada nama-nama yang tercantum di atas.
Foto-foto Acara reuni silahkan KLIK link berikut :
http://www.flickr.com/groups/ikat
Add comment Oktober 17, 2008
Kabar Sahabat
Dikabarkan kepada segenap civitas academica STIE Tridharma, rekan kita Maringan Hartono (Tono), Angkatan 93, Anggota PALATRA, pada hari Minggu, 8 Pebruari 2009 mengalami musibah dan hingga hari ini (11/02/09) masih belum sadarkan diri.
Untuk itu, sudilah kiranya rekan-rekan panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar Kang Tono segera diberikan kesembuhan.
Informasi terakhir, kondisi Kang Maringan Hartono masih koma. Menurut tim dokter, terjadi perdarahan di otak dan diharuskan operasi kepala.
Saat ini masih dirawat di RS. St. Borromeus, Jl. Ir. H. Juanda Bandung, Gd. Yosef Lt. 3 Kmr. 1320.
Untuk membantu kesembuhan dan meringankan penderitaan Kang Tono, marilah kita bersama-sama berdoa dan menghimpun dana bantuan.
Bagi yang ingin membantu, dana dapat disalurkan melalui rekening Bank BCA no: 2331725287 a/n Sigit Nugroho.
Update info dapat dilihat di,
http://www.palatra.co.cc/ atau
http://www.palatra.blogspot.com/
Email: palatra@gmail.com
YM: palatra@yahoo.com
2 comments Februari 12, 2009
Cermin
Selamat Tahun Baru Islam 1430 H
Selamat Tahun Baru 2009 M
Refeksi perjalanan tahun 2008 sejatinya dapat menjadi cermin diri untuk menjadi lebih baik lagi ditahun berikutnya. Ada ungkapan “Bercerminlah pada kaca cermin yang bening jika terdapat buruk rupa maka jangan sampai cermin yang dibelah.”
Kami tidak akan terus-menerus berdiri di depan cermin karena tetap harus berkarya. bercermin lebih baik dilakukan di penghujung waktu, atau awal mau beraktivitas.
Kita berharap agar semua keringat jerih payah atas apa yang kita lakukan selama ini ada mamfaatnya bagi kita semua. dan mohon maaf, jika selama ini kami masih banyak kekurangan dalam melayani teman-teman alumni.
Add comment Desember 31, 2008
Undangan Rapat FLAT
MERCEMATI PERKEMBANGAN TERAKHIR ALMAMATER,
ADA HAL SANGAT PENTING YANG PERLU DIDISKUSIKAN
Berkenaan dengan hal tersebut, dengan ini kami mengundang rekan2 alumni Tridharma, khususnya perwakilan/utusan angkatan (FLAT) untuk hadir pada :
Hari, tgl. : Sabtu, 27 Desember 2008
Waktu : Pukul 14.00 s/d selesai
Tempat : Kampus II STIE Tridharma
Bandung, 16 Desember 2008
Dewan Pengurus IKAT Pusat
Add comment Desember 17, 2008
Cerpen
Reuni
Cerpen: Syarief HD
Tempat parkir di pelataran kampus penuh oleh mobil. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Artinya aku terlambat satu jam sepuluh menit dari waktu yang dijadwalkan. Hari Minggu itu aku akan menghadiri reuni di almamater tempat ku pernah menimba ilmu selama hampir 5 tahun. Aku sengaja datang terlambat. Biasa, acara suka ngaret. Fisik kampus tampak tak banyak berubah walau sudah kutinggalkan hampir 15 tahun. Tadinya aku sempat berpikir kalau reuni kali ini tidak akan banyak yang datang. Tapi aku salah. Setidaknya berdasarkan banyaknya mobil di tempat parkir.
“Di sebelah Pak,” seorang satpam berteriak melihat keraguanku memasuki halaman kampus. Ia lalu berlari sambil melambaikan tangan minta diikuti. Kuarahkan mobil mengikutinya. Setibanya di gedung sebuah perkantoran ia memberikan aba-aba parkir.
“Pak Syukur?” Satpam itu menyapaku dengan sedikit nada tanya. Mungkin ia agak pangling dengan penampilanku.
“Eh Pak Arif, damang?” Tadi tak begitu kuperhatikan kalau ia adalah satpam semasa aku kuliah.
“Sae. Meni awet muda Pak Syukur mah.”
Agak geli juga mendengar aku disapa dengan pak. Waktu kuliah ia memanggilku langsung nama tanpa diembeli apa-apa. Dikiranya aku sudah jadi orang sekarang. Waktu kuliah aku ini bukan orang atau paling tidak setengah orang. Yang setengah lagi entah apa. Mungkin binatang atau setan. Mungkin juga orang-orangan yang berpikiran idealis. Setelah punya jabatan di pemerintahan bukan mengabdi pada masyarakat malah memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Atau mungkin mahasiswa tak lebih dari sekedar sumber mendapatkan uang bagi pengelola yayasan. Soal pelayanan pada mahasiswa dan mutu lulusan, itu nomer sekian. Makanya tak heran banyak perguruan tinggi swasta yang berguguran.
“Ah, bisa aja Pak Arif. Sudah banyak yang datang?”
“Sudah Pak. Pak Giri, Pak Eman dan Bu Ani juga sudah,” jawab Pak Arif menyebut beberapa teman seangkatan. Sambil berjalan memasuki kampus kukeluarkan sebungkus rokok dari saku baju. Kuambil sebatang, lalu kusulut. Rokok kemudian aku tawarkan kepadanya. Ketika ia mengembalikannya kepadaku, kukatakan padanya rokok itu untuknya. Aku memang sedang berusaha mengurangi merokok. Kalau nanti ingin merokok gampang saja, tinggal minta pada teman. Dari sekian teman yang datang masa tidak ada satu pun yang merokok.
“Nuhun pak.” Sahut pak Arif sambil berlari menuju posnya. Aku lalu mencari yang orang yang kukenal. Ada beberapa orang di dekat pintu masuk tapi bukan muka yang kukenal. Mereka adik angkatan setelahku yang cukup jauh. Sebagai aktifis kampus aku kenal sampai beberapa angkatan sesudahku.
“Syukur” sebuah seruan cukup keras mengagetkanku. Aku menoleh mencari sumber suara. Tampak olehku di dekat tempat parkir motor seorang lelaki bertopi dengan tulisan “New York” dan mengenakan rompi rajut seperti yang biasa dikenakan Rhenald Kasali. Melihat rompinya aku yakin ia Juned, teman seangkatan. Hanya ia yang berlagak seperti itu. Sejak kuliah ia sudah terobsesi menjadi seorang eksekutif perusahaan. Sehari-hari ia berpenampilan rapi dengan rompi kesayangannya. Sedangkan mahasiswa lain cukup memakai celana jins dan kaos oblong. Kalau musim ujian tiba dialah mahasiswa yang paling merasa senang. Waktu itu kalau ujian harus mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitam. Bagi Juned itu tidak cukup. Ia tetap merasa harus memakai rompi dan menambahkan dasi kupu-kupu pada kemejanya. Seandainya ia memiliki muka yang ganteng tentu orang akan menyukai penampilannya. Tapi dengan rambut klimis dan kacamata tebal, ia malah kelihatan “oon”. Tapi, walaupun begitu, ia teman yang baik dan menyenangkan.
“Hey Juned,” aku berteriak tak kalah keras. Kami lalu berjabatan tangan dengan erat dan terlibat percakapan seru seperti layaknya bertemu dengan teman lama. Percakapan baru terpotong oleh kedatangan seorang lelaki yang memakai batik. Dari tanda pengenal yang ia kenakan, ia salah seorang panitia reuni. Ia meminta kami segera masuk ke ruangan. “Biar tidak saling tunggu,” ujarnya.
Setelah mengisi daftar hadir aku dan Juned melangkah ke ruang aula yang dipakai untuk reuni yang berada di lantai atas. Banyak juga yang bersamaan memasuki aula. Sambil menaiki tangga kami bersalaman. Walaupun tidak saling kenal, kami merasa satu almamater. Barulah ketika memasuki ruangan terlihat olehku teman-teman seangkatan di jajaran kursi belakang. Mereka menoleh ke arah pintu masuk mendengar ada yang datang. Begitu mengenaliku mereka melambaikan tangan. Di situ kulihat Wawan, Giri, Ani, Eman, Aming, Ruhyat, Frida, Yudi, Pram, Ani juga Dadan. Kuhampiri mereka lalu kusalami mereka satu persatu. Lalu aku duduk di sebuah kursi dekat mereka.
Acara baru saja dimulai. Aku dan teman-teman terlibat pembicaraan seru. Maklum, lama tak bertemu.
“Itu dia di sana,” teriak Juned memecah obrolan.
“Siapa?” kataku.
“Alah, jangan pura-pura. Dari tadi celingak-celinguk nyari Puji kan?” Ujar Juned sambil menyebut pacarku waktu kuliah. Aku memang berharap bertemu dengannya di acara ini. Rupanya kegelisahanku terbaca oleh Juned. Sementara yang lain tertawa mendengar omongan Juned.
“Itu di sana,” Juned mengulang sambil tangannya menunjuk perempuan berjilbab putih. Bersamaan dengan itu sosok yang ditunjuk menengok ke arah kami. Ia melempar senyum. Sesaat aku terkesima. Aku mengenali senyum itu. Senyum yang sempat membuat jantungku berdebar tak karuan.
Puji kelihatan tak berubah. Hanya saja ia mengenakan jilbab sekarang. Mukanya tetap putih bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Dengan berjilbab, Puji justru kelihatan tambah cantik.
Aku lalu mulai berhitung. Puji dua angkatan di bawahku. Jadi, usianya sekarang 35. Nama kami unik. Puji dan Syukur. Dua kata ini sering diucapkan orang ketika pidato atau pembacaan doa. Saking uniknya ketika ada yang mengucapkan “.. puji dan syukur kita panjatkan..”, sebelum orang itu menyelesaikan kalimatnya, teman-temanku berseru “hadir…”. Itu tidak hanya di acara kemahasiswaan yang sifatnya nonformal. Di acara formal seperti wisuda atau seminar, mereka tetap melakukannya. Pernah ada dosen yang menegur kelakuan teman-teman. Menurut dosen itu bisa kualat karena mempermainkan ungkapan kepada Tuhan. Tapi dasar mahasiswa, jika ada yang mengucapkan kalimat seperti itu, mereka tetap saja berteriak, “hadir..”. Aku tidak tahu persis, apakah di antara teman-teman ada yang benar-benar kualat akibat kelakuan semasa kuliah itu.
“Udah sana!” Kata beberapa teman membuyarkan lamunanku. Mereka lalu menarikku dari tempat duduk. Aku menurut saja. Kalau aku menolak mereka pasti akan membuat keributan. Lalu aku berjalan mendekati kursi di mana Puji duduk. Kebetulan kursi di sebelahnya kosong.
“Assalamu ‘alaikum,” kuucapkan salam padanya.
“Wa ‘alaikum salam,” jawabnya sambil tertawa. Ia tahu aku mengucapkan salam dengan maksud menggodanya. Ia menyadari kalau aku baru tahu perubahan penampilannya. Teman-teman mulai usil.
“Ada yang bikin reuni di acara reuni,” ucapan itu cukup jelas terdengar walaupun tidak terlalu keras. Ada perasaan jengah mendengarnya. Padahal masa-masa itu telah lewat dalam hitungan tahun. Bahkan lebih dari sepuluh tahun. Dan itu membuatku tertunduk, malu.
Ketika kuangkat kepala, Puji tengah menatapku. Kami bertatapan mata. Aku serasa memasuki dimensi alam lain. Tepuk tangan peserta reuni ketika ketua alumni selesai sambutannya, seolah angin lalu.
“Shit,” kataku dalam hati. Aku mengutuk diriku sendiri karena masih saja mengagumi kelembutan wajahnya. MC memanggil beberapa nama agar ke depan untuk memberikan paparan. Aku mengenali dua nama yang disebut. Sekarang, masuk acara reuni yang sesungguhnya.
“Berapa hasil produksi?” tanya Puji sambil menepuk pundakku.
Aku tertawa. Aku tahu maksudnya anak.
“Dua. Sejodoh,” jawabku sambil tetap tertawa. “Yang gede perempuan adiknya laki. Kamu?”
“Hahaha,” ia mulai jawabannya dengan tertawa. “Kamu kalah. Aku tiga. Dua laki satu perempuan.” Puji memang mahasiswi yang cerdas. Ia juga berani mempertahankan pendapat yang dianggapnya benar. Tapi, ia memiliki kelembutan seorang ibu. Waktu itu kami sering dianggap sebagai pasangan serasi. Apalagi mukaku juga tidak jelek-jelek amat. Namun, hubungan kami tidak sampai pada jenjang pernikahan. Setelah lulus aku bekerja di sebuah perusahaan asing di Papua. Sedangkan Puji setelah lulus pindah ke semarang ikut dengan orangtuanya dan bekerja di sana. Hubungan yang jauh ini membuat kami renggang. Sampai kudengar kabar Puji menikah dengan orang lain.
“Aku gak bisa lama. Aku harus balik ke undangan saudara. Nanti sore harus ke Semarang lagi,” kata Puji.
“Putri!” Kataku memanggilnya. Dulu aku suka memangilnya dengan sebutan itu. Panggilan sayang, ceileh… “Kita ngobrol dulu sebentar yuk?”
Sesaat Puji terperangah. Ada sedikit rona merah di wajahnya. Ia tidak menyangka aku masih ingat dengan sebutan itu. “Tapi….”
“Ayolah. Sebentar saja. Kapan lagi kita bisa ketemu,” kataku tak mau kehilangan kesempatan.
“Aku ditunggu keluarga.”
“Sebentar saja Put!” Kataku sedikit memaksa.
“Okelah,” katanya sambil menghembuskan napas. “Sebentar saja ya.”
Aku mengangguk. Lalu kusebut nama sebuah cafe.
HPku berdering ketika Aku dan Puji tengah memilih sebuah meja di pojok cafe dekat jendela. Dari Pram.
“Kamana Maneh?” Tanyanya tanpa basa-basi.
“Ada perlu sebentar,” jawabku berbohong. Aku senyum sendiri. Aku ingat masa kuliah. Jika ada acara kampus yang bentrok dengan kencan, aku biasa berbohong seperti itu.
“Cepat ke sini. Kampus mau dijadiin mall,” ujar Pram tegas.
Aku tertawa mendengarnya, “Bagus. Nanti tambah banyak yang pintar. Pintar belanja.”
“Ini serius. Yayasan bangkrut, ‘gak baca di materi yang dibagiin.”
Aku teringat saat mengisi daftar hadir. Petugas memang membagikan semacam makalah. Aku saja yang tak sempat membacanya.
“Udah cepat ke sini. Ditunggu,” lanjut Pram dan tut, telepon pun ditutup.
Kaget juga aku. Sempat juga kudengar isu kesalahan pengelolaan kampus. Tapi kupikir itu cuma isu. Kampusku memang dikelola oleh orang-orang yang masih punya hubungan keluarga. Isunya, dana pendidikan dipakai untuk kepentingan pribadi. Yang paling parah, ada yang menggelapkan dana pendidikan hanya untuk kawin lagi. Karena masih keluarga, penyelewengan-penyelewengan ini dianggap sah-sah saja. Justru karena yang satu nyeleweng yang lain malah ikut-ikutan.
Darah aktifis mahasiswaku mulai mendidih. Aku tidak terima kampus dijadikan mall. Bagaimana bisa? Sebagai alumni jelas aku kecewa. Bagaimana jika nanti ada yang menanyakan almamaterku? Apa orang akan percaya jika dikatakan dahulunya mall ini adalah kampus yang pernah melahirkan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia?
Sebelum darah aktifisku mencapai titik didihnya, aku teringat perempuan yang sedang duduk di depanku. Ah…haruskah aku kehilangan kesempatan berduaan dengan orang yang pernah kucintai?
2 comments November 27, 2008
Gerakan Moral Penyelamatan Institusi
[ Naskah ini kristalisasi dari pemikiran2 para alumni ]
1. Latar Belakang Masalah
- Menjelang usia ke 35 tahun STIE Tridharma jauh tertinggal oleh PT seangkatannya yang sudah menjadi Universitas, misalnya; UTAMA (d/h STIEB), USB (d/h YPKP), dll, bahkan oleh PT yang “baru lahir” misalnya Universitas Al-Ghifari, UNIKOM, dll.
- Organ Yayasan (Pembina, Pengurus, Pengawas) saat ini belum mempunyai jalan keluar atas kesulitan keuangan yang dihadapi (“krismon”).
- YTWB harus bertanggung jawab terhadap going concern STIE Tridharma.
- Alumni sebagai stakeholders, mempunyai peran strategis untuk secara kolektif ambil bagian dalam mencari jalan keluar.
2. Tujuan :
- YTWB dikelola oleh orang-orang yang beritikad baik dan mempunyai visi & misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
- Institusi STIE Tridharma terjamin going concern-nya
- Alumni memberikan konstribusi, sehingga dapat menjadi fungsi pengendali di organ YTWB.
3. Arah dan Kebijakan Gerakan
A. Langkah Kerja
1. Pengurus IKAT membentuk Tim kecil yang bertugas untuk menyiapkan kerangka kerja dan mobilisasi alumni, diantaranya :
- Membuat Blue Print STIE Tridharma (revitalisasi STIE Tridharma)
- Menyusun Rencana Strategis 2009-2014
- Menyusun Konsep Recovery Keuangan
- Menyusun Draft MoU antara IKAT dengan YTWB
- Menginventalisir dan mengusulkan nama-nama Anggota Tim Panitia Penggalangan Dana Alumni
2. Pengurus IKAT membentuk Komite/Panitia Penggalangan Dana Alumni, yang mempunyai tugas pokok :
- Merancang & menggandakan Voucher Pendidikan
- Melakukan sosialisasi dan mobilisasi penggalangan dana
- Membuat dan melaksanakan konsep alternatif penggalangan dana
3. Membentuk Panitia Reuni pelaksanaan tgl 11 & 12 Oktober 2008 (lihat reuni akbar)
B. Prinsip Dasar MoU IKAT & YTWB
- Untuk transparansi & akuntabilitas publik menuju Good University Governance secara kolektif alumni masuk Organ Yayasan (Pembina, Pengurus, Pengawas)
- Yayasan harus membentuk organ Internal Audit
- Laporan keuangan harus di audit oleh KAP
C. Model Penggalangan Dana
- Menghimpun Donasi dari Alumni se ikhlasnya, jika mencapai Rp 1 juta dalam periode 1 tahun/Donatur, maka dapat disetarakan dengan senilai 1 Voucher
- Pola Investasi Pendidikan (Voucher Pendidikan), sbb :
Nominal Voucher Rp 1 juta minimal pemesanan 5 Voucher ( Rp 5 juta)
untuk masa pembayaran 5 (lima) tahun secara bertahap.
Asumsi :
Total alumni (A2LPU, A2LWB, STIE dan PPAK ) +/- 3300 X Rp 5 jt = Rp 16,5 Milyard atau per tahun Rp 3,3 Milyard. Jumlah potensi student body baru adalah 5 x 3.300=16.500 mahasiswa (setara dengan life cycle institusi 175 tahun).
Catatan :
Setiap 1(satu) Voucher dapat digunakan untuk memperoleh discount 50% studi di STIE Tridharma sampai dengan selesai.
Add comment September 22, 2008
Alumni dan Almamater
Suatu ketika, kita walau berbeda waktu pernah memutuskan untuk studi di STIE Tridharma. Kini diantara kita tersebar dipelosok negeri bahkan di luar negeri dengan berkiprah di berbagai profesi. Diantara kita bahkan saat ini telah dan sedang menduduki kursi empuk sebagai penguasa, pengusaha, eksekutif, akademisi, politisi…dll… Ada juga yang sudah menyandang berbagai gelar akademik…bahkan gelar akademik tertinggi. Tapi mungkin juga diantara kita, saat ini ada yang sedang mengalami berbagai kesulitan…termasuk sulitnya mencari pekerjaan yang layak…yang jelas kita semua SAMA… SAMA ALUMNI STIE TRIDHARMA..SAMA SATU ALMAMATER…
Masih ingat Dengan Mars STIE Tridharma, coba simak lagi bait-baitnya : STIE Tridharma – Membentang Membahana – Tempat Bernaung Putera Bangsa – Tempat Insan Berkarya – Disana tlah menanti – tercurah hasratmu – disana kita berpijak – Disana kita ditempa – Curahkan karya baktimu – Tuntut timba ilmu – Bergegas Berjuang berjalan dengannya – Menuju cita mulya. ( Karya : Irianus Daud Pelangi ‘82) mudah-mudahan dapat mengenang lagi masa ospek dan kuliah kita dulu.
Kini ALMAMATER memanggil kita untuk sama-sama memikirkan masa depan KAMPUS KITA TERCINTA…kawan2 alumni sempatkanlah untuk mengunjungi Almamater, Kampus kita….yang pernah melahirkan kita…hingga bisa seperti sakarang ini…“ALMAMATER MEMANGGIL2 ANAK KANDUNGNYA…ALUMNI…WAHAI ANAKKU…BANTULAH IBUMU…SEKARANG JUGA…”
Foto-foto Acara reuni silahkan KLIK link berikut :
http://www.flickr.com/groups/ikat
30 comments Agustus 28, 2008
Voucher Pendidikan untuk masa depan
Biaya pendidikan, khususnya jenjang Perguruan Tinggi semakin melangit…demi masa depan generasi bangsa tentu saja kita harus mempersiapkannya secara arif dan bijak, khsususnya untuk anak dan kerabat kita. Bagaimana pendapat Anda jika ada institusi pendidikan terkemuka mengeluarkan Voucher Pendidikan senilai Rp 1 juta diberi discount 50% biaya pendidikan sampai selesai…
8 comments Agustus 27, 2008
Reuni Akbar
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Izin & kehendak-Nya Reuni Akbar Tridharma semua angkatan (A2LPU, A3LWB, STIE dan PPAK) dapat dilaksanakan sesuai rencana. Kami segenap Dewan Pengurus IKAT, menyampaikan rasa terimakasih & penghargaan yang tinggi kepada Yth :
- Panitia Penyelenggara, khususnya adik-adik mahasiswa/i & karyawan/ti
- Ketua Dewan Penasehat IKAT beserta jajarannya
- Rekan-rekan alumni atas dukungan, konstribusi dan kehadirannya
- Ketua YTWB & Pjs Ketua STIE Tridharma beserta staf atas kehadiran & fasilitasnya
- Serta semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara reuni. Khusus kepada rekan-rekan yang tidak bisa hadir, berikut adalah susunan acara reuni :
Session I (Pembukaan & Sambutan-sambutan):
- Sambutan Ketua Yayasan Tridharma Wiraswasta Bandung (YTWB)
- Sambutan Pjs. Ketua STIE Tridharma
- Sambutan Ketua Dewan Pengurus IKAT
- Sambutan Ketua Dewan Penasehat IKAT.
Session II (Pemaparan Revitalisasi menuju New STIE Tridharma) :
- Refleksi STIE Tridharma memasuki usia ke 35 tahun
- Konsep New STIE Tridharma
- Pola Penggalangan Dana Abadi IKAT
Session III (Tanggapan & pembentukan FLAT) :
- Diskusi & Tanya jawab
- Pembentukan Forum Lintas Angkatan Tridharma (FLAT)
Informasi detail mengenai hasil-hasil reuni, pertemuan FLAT & Dewan Pengurus IKAT, Insya Allah akan kami sampaikan via e-mail atau pos. Oleh karena itu kepada rekan-rekan mohon berkenan untuk mengisi DIRECTORY secara lengkap. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kepada semua pihak atas berbagai keterbatasan & hal-hal yang kurang berkenan.
Foto-foto Acara reuni silahkan KLIK link berikut :
http://www.flickr.com/groups/ikat
Salam hangat, Ketua Dewan Pengurus IKAT
ttd
Tonton Riyanton,SE.,Ak.(88)
25 comments Agustus 27, 2008